Sebelum terjadi peperangan Qadisiyah antara tentera Muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dengan tentara Parsi pimpinan Rustam, Sa’ad terlebih dahulu mengirim utusan kepada Rustam beberapa kali. Di antara utusan tersebut adalah Rub’ie bin Umair radhiyallahu ‘anhu.Maka Rub'ie yang pada ketika itu masih berusia tiga puluhan tahun pun segera masuk menemui Rustam, panglima perang bangsa Parsi tersebut. Pegawai-pegawai Rustam telah menghiasi pertemuan itu dengan bantal-bantal yang disulam dengan benang emas serta permaidani-permaidani yang diperbuat dari sutera. Mereka mempertontonkan kepadanya pelbagai macam perhiasan berupa yaqut, permata-permata yang mahal dan perhiasan lain yang menyilaukan mata, sementara Rustam memakai mahkota dan sedang duduk di atas ranjang yang diperbuat dari emas.Ini berbeza sekali keadaannya dengan Rub’ie. Beliau masuk dengan hanya mengenakan baju yang sangat sederhana, dengan pedang, perisai, dan kuda yang pendek. Rub’ie masih tetap di atas kudanya sehingga kuda tersebut memijak hujung permaidani. Kemudian beliau turun serta mengikatkan kuda tersebut di sebahagian bantal-bantal yang terhampar. Setelah itu beliau langsung masuk dengan senjata, baju besi dan penutup kepalanya.
Mereka berkata, “Letakkan senjatamu!”. Beliau menjawab, “Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka aku akan segera kembali.”Rustam berkata, “Biarkan dia masuk.”Maka Rub’ie datang sambil bertongkat dengan tombaknya dalam keadaan posisi hujung tombak ke bawah sehingga bantal-bantal yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.Sebahagian riwayat menyatakan ketika Rustam melihat kuda Rub’ie yang sangat kurus, pakaiannya yang compang-camping dan tombaknya yang tumpul, Rustam mentertawakannya dengan penuh ejekan dan berkata kepadanya; “Wahai Rub’ie, kalian datang untuk membuka dunia ini dengan kuda yang kurus, tombak yang tumpul dan pakaian yang compang-camping ini?”Maka dengan lantang Rub’ie mengatakan sebuah perkataan bagaikan sambaran petir, bahkan lebih dahsyat daripada sambaran petir. Rub’ie berkata (bersamalah kita perhatikan baik-baik dan hayati sungguh-sungguh kata-kata ini):
"Allah telah mengutus kami ke sini untuk membebaskan manusia dari perhambaan kepada sesama manusia kepada perhambaan kepada Rabb yakni Allah, datang untuk menyelamatkan mereka dari kesempitan dunia kepada keluasan akhirat dan dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agamaNya untuk kami seru kamu kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan (menerimanya), kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah.”
Mereka bertanya, “Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?”Beliau menjawab; “Syurga bagi sesiapa sahaja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup.”Rustam pun berkata; “Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi mahukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempertimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”Beliau menjawab; “Ya, berapa lama waktu yang kalian sukai? Sehari atau dua hari?”
Rustam menjawab; “Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para pegawai tinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”Maka beliau pun menjawab; “Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan apabila telah bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”Rustam bertanya; “Apakah kamu pemimpin mereka?”Beliau menjawab; “Tidak, tetapi kaum Muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.”Maka (akhirnya) Rustam mengumpulkan para pegawai tertinggi kaumnya kemudian berkata; “Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar dari perkataan lelaki ini?”Mereka menjawab; “Kami minta perlindungan Tuhan (supaya engkau tidak) terpengaruh kepada sesuatu dari (ajakan) ini dan dari menyeru agamamu kepada (agama) anjing ini. Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya?”
Rustam menjawab; “Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya mereka menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”Walaubagaimanapun, pada akhirnya mereka memilih untuk berperang. Maka pertempuran pun berkecamuk, pasukan Kisra berjumlah dua ratus lapan puluh ribu perajurit, sementara pasukan kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar tiga puluh ribu perajurit. Setelah tiga hari kemudian, kaum Atheisme itu gagal menakluki kaum Muslimin dan terangkatlah bendera “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Ramai sekali para syuhada’ yang mempersembahkan darah mereka dengan sangat murah di jalan Allah untuk membeli SyurgaNya
Dengan izin dan bantuan Allah, kemenangan menjadi milik tentera Islam dan kaum Muslimin. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu melihat kemenangan yang besar ini dan dia melihat istana Kisra yang megah dan telah memerintah selama seribu tahun, dia berkata; “Allah Maha Besar”, maka istana yang megah itupun tertunduk dan goncang dan Sa’ad menguraikan airmata.
Jualan Biskut Aidilfitri
15 years ago
No comments:
Post a Comment